Pedagang Asongan Bak Buah Simalakama
Jakarta, 16 November 2016.
Pedagang asongan masih banyak sekali dijumpai di jalanan ibu kota tercinta ini. Mungkin sudah jarang sekali orang menulis atau menggunakan kata Asongan, yang pasti saya sendiri baru kepikiran ketika memulai menulis blog ini.
Siapakah mereka?
Apakah mereka penduduk asli Jakarta atau pendatang?
Apakah mereka mendapat untung dari berjualan di jalanan?
Berapa sih untungnya?
Berapa lama mereka berjualan?
Apakah benar mereka bisa berjualan ragam barang sesuai jam - jam tertentu?
Entahlah semua itu hanya pertanyaan di kepala saya yang tidak saya ketahui jawabannya secara pasti karena tidak pernah mencari tahu dan berbicara dengan mereka secara langsung.
Namun secara analisa di beberapa ruas jalan yang saya lewati setiap hari di jam pergi dan pulang, sepertinya mereka tidak berdagang beda", hanya fokus ke dagangan yang sudah dipilih, katakan jualan rokok dan permen ya hanya jualan itu dan jamnya pun di jam tertentu itu misalnya jam 16.00 atau 17.00 hingga larut malam.
Entahlah bila mereka bekerja atau berdagang di tempat yang lain di jam selebihnya. Hanya dia, Tuhan dan keluarganya yang tahu hehehehe.
Saya sebenarnya tidak masalah dengan adanya pedagang asongan karena terkadang dapat membantu para pengguna jalan terutama di tengah kemacetan yang semakin hari semakin melelahkan. Namun lebih banyak prihatinnya dan khawatir juga akan kesehatan, keselamatan mereka. Ingin rasanya membeli barang - barang yang dijajakam namun bisa bangkrut juga kalau jajan terus menerus dan setiap pedagang saya beliin 😅.
Khawatir juga akan kelancaran jalanan. Kadang di tengah jalanan yang tidak terlalu macet, mereka berjalan di sela - sela ruang yang ada yang sebenarnya memang ada untuk lebih leluasa saja bagi penggendara mobil ataupun motor. Dengan jumlah yang bukan hanya 1 atau 2 tapi banyak, pedagang tersebut malah menambah ruwet kemacetan. Katakanlah sedikit menghambat yang dari sedikit" jadi banyak juga.
Terkadang kagum juga dengan barang yang dibawa, sampai tak habis pikir ini sebenarnya antara salut sama kasihan, ga berat apa bawa - bawa kuda, kursi plastik untuk renang, kalender gantung, dan terakhir yang saya juga ga habis pikir adalah para penjaja kopi/minuman yang bisa kamu jumpai di jalan Pelabuhan - Priok - Cilincing kalau sore. Mereka bawa beragam minuman instant dengan termos air panas. Kalau ada sopir truk yang pesan, seakan ala drive thru, mereka langsung meracik minuman tentu harus minggir di trotoar atau menarur termos di atas beton pembatas jalan dan bergegas di antara kemacetan untuk menghampiri supir begitu minuman kelar dibuat. Bedanya kalau drive thru mobil menghampiri counter yang tersedia, kalau ini kebalikannya, pedagang menghamliri mobil, keren lah! Jadi teringat pelayanan 30 detik Mcd dulu hahahaha.
Kalau memperhatikan mereka para pedagang asongan, saya selalu terhibur dan mengucap syukur dengan kelebihan dan kemudahan hidup yang saya dapati saat ini. Nilai juang dan kesabaran serta rasa pasrah yang mereka miliki merupakan sebuah pembelajaran kehidupan yang memang keras namun sangat berarti dan menunjukkan arti kehidupan yang sebenarnya.
Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk membina mereka dan memberikan prasarana atau kesempatan yang lebih sehingga mereka dapat meningkatkan hidup mereka?
Siapa yang dapat membimbing dan memperjuangkan hak ataupun derajat mereka serta memberikan penunjang kebutuhan mereka?
Apakah sekiranya pedagang asongan akan terus ada di jalanan - jalanan di Indonesia? Sampai kapan "profesi" ini bertahan? Apa tidak bisa mereka diserap oleh pemerintah di daerah - daerah tidak hanya di kota besar atau Jakarta, dalam program pasukan oranye dan semacamnya sehingga kehidupan menjadi lebih baik.
Sepertinya pun mereka perantau dan bukan warga Jakarta sehingga hanya ini yang bisa dilakukan sebagai perantauan. Sayangnya sekali lagi kondisi ini pun secara umum dapat menjadi tafsiran kasar bahwa program pembangunan rakyat Indonesia, kemajuan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan belum merata karena rakyat rela hidup susah di Ibukota demi mendapat uang kecil daripada tidak ada uang sama sekali di kampungnya, di desanya dimana rumah dan keluarganya tinggal.
Comments
Post a Comment